Teman
Sebuah kata yang menggambarkan sesuatu
Dan bukan lagi seseorang
Ketika saat ini, teman bukanlah hal yang tak ternilai harganya
Namun, harganyalah yang tak ternilai
Dimana dunia memulai untuk saling berpikir
Akan segala hal termasuk hal yang sebagai kewenangan hati
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Diposting oleh
Gandhincul
komentar (0)
Diposting oleh
Gandhincul
komentar (0)
Sekian
detik yang cepat tersebut
Terasa
lambat saat aku lewat didepanmu
Pesonamu
yang menggodaku untuk melirikmu
Dan
sejak pandangan pertama itu,
Diposting oleh
Gandhincul
komentar (0)
Kepulan asap dan getaran dari jauh memecah fatamorgana
Suara peluit berdesing seiring bermulainya perjalanan
Melepaskan penat sesaat dan membawa kami ke
pemandangan indah
Jauh tenggelam dalam delusi rahasia
Memandang illusi yang terbuyarkan oleh
pecahan kaca
Kau membuat hal ini sulit
Aku tak menyulitkan hal ini
Kau membuatku harus melewati rel bergigi
Maafkan aku
Ada sebuah kesejukan embun saat kau
memandangnya
Ada tusukan duri saat kau memandangnya
Memandang dia menjauh tanpa sebuah lambaian
tangan
Menghampiri orang lain yang bukan diriku
Saat inilah aku ingin melepaskan jeratan
kebisuan rasa
Seiring saat kereta mengantarkanku di
setiap stasiun
Menurunkan muatan
Memunggungi sebuah cedera ringan
Melepaskanmu dari rel bergigi
Dan kelak jika aku memiliki satu detik
Untuk berhenti di stasiun yang sama
Aku akan menghampirinya dengan euphoria
kesuksesan
Membawa kisah dari berbagai dimensi dunia
Menyapanya seakan – akan kami teman lama
Diposting oleh
Gandhincul
komentar (0)
Berlari
mencari gerbong yang tepat
Melepaskan
penat sesaat dan membawa kami ke pemandangan indah
Suara
orchestra mesin sederhana
Jauh
tenggelam dalam delusi rahasia
Diposting oleh
Gandhincul
komentar (0)
Yang terhormat,
Adinda Sasmita di Jalan
Dago, Bandung, Jawa Barat.
Telah lama sejak kejadian
yang Mirna ceritakan kepadaku melalui jurnalnya. Hanya ini yang bisa kulakukan
untuk Mirna. Aku tak kuasa melihat Mirna seperti ini terus.
Mirna memberikan sebuah
jurnal padaku sebelum ia menemui kakaknya. Aku membaca kisah yang telah Mirna
alami malam itu.
“Kak, kuharap engkau memaafkan aku setelah kumenuliskan seluruh
cerita sebagai bukti apa yang telah terjadi malam itu. Aku sungguh menyesal.
Aku marah pada diriku sendiri yang begitu bodoh tak mendengarkanmu.”
